Category: Soil Trivia (page 1 of 2)

Lahan Gambut

gambutLahan gambut didefinisikan sebagai lahan dengan tanah jenuh air, terbentuk dari endapan yang berasal dari penumpukkan sisa-sisa (residu) jaringan tumbuhan masa lampau yang melapuk, dengan ketebalan lebih dari 50 cm (Rancangan Standar Nasional Indonesia-R-SNI, Badan Sertifikasi Nasional, 2013).

Kandungan C organik yang tinggi (≥18%) dan dominan berada dalam kondisi tergenang (anaerob) menyebabkan karakteristik lahan gambut berbeda dengan lahan mineral, baik sifat fisik maupun kimianya. Kandungan karbon yang relatif tinggi berarti lahan gambut dapat berperan sebagai penyimpan karbon. Namun demikian, cadangan karbon dalam tanah gambut bersifat labil, jika kondisi alami lahan gambut mengalami perubahan atau terusik maka gambut sangat mudah rusak. Oleh karena itu, diperlukan penanganan atau tindakan yang bersifat spesifik dalam memanfaatkan lahan gambut untuk kegiatan usahatani. Selain mempunyai karakteristik yang berbeda dibanding lahan mineral, lahan gambut khususnya gambut tropika mempunyai karakteristik yang sangat beragam, baik secara spasial maupun vertikal (Subiksa et al., 2011).

Karakteristik gambut sangat ditentukan oleh ketebalan gambut, substratum (lapisan tanah mineral di bawah gambut), kematangan, da n tingkat pengayaan, baik dari luapan sungai di sekitarnya maupun pengaruh dari laut khususnya untuk gambut pantai (keberadaan endapan marin). Lahan gambut tropika umumnya tergolong sesuai marginal untuk pengembangan pertanian, dengan faktor pembatas utama kondisi media tanam yang tidak kondusif untuk perkembangan akar, terutama kondisi lahan yang jenuh air, bereaksi masam,dan mengandung asam-asam organik pada level yang bisa meracuni tanaman,sehingga diperlukan beberapa tindakan reklamasi agar kondisi lahan gambut menjadi lebih sesuai untuk perkembangan tanaman.

Sumber : http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/publikasi-mainmenu-78/art/935-gamb

Share/Bookmark

Karst, Kearifan Lokal Wilayah Indonesia

20170607211457

Karst merupakan areal yang mempunyai lithologi  dari batuan yang berbahan induk kapur. Kata “Karst” berasal dari nama suatu kawasan yang terletak di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia bagian Utara, dekat kota Trieste Berasal dari bahasa Slovenia “krst/krast”. Batuan tersebut bersifat porous (berpori) dan berongga pada bagian bawahnya, pada bagian permukaan tanah dijumpai doline yaitulubang-lubang sumur yang terbentuk karena tergerus oleh aliran air. Akibatnya, air hujan yang turun tidak mengalir menjadi aliran permukaan tetapi masuk dan ke dalam tanah. Sehingga tak ada sungai yang mengalir di kawasan ini. Sistem irigasi bersifat tertutup. Kekhasan lainnya dari kawasan karst adalah bentuk igir (puncak) dari bukit-bukit di kawasan karst, bentuk igir cenderung membulat dan mempunyai tinggi permukaan bukit yang hampir sama.  Umumnya dibawah permukaan tanah banyak dijumpai sungai-sungai bawah tanah.

 

Bagi kehidupan manusia, kawasan ini mampu menyediakan kebutuhan pangan maupun air. Karena pada fase awal peradabannya,  manusia tinggal dalam gua dimana gua-gua tersebut telah terbentuk secara alami dan sangat banyak di kawasan ini. Hal ini terbukti dengan diketemukannya lukisan-lukisan dalam dinding dan  selanjutnya digunakan sebagai  catatan sejarah kehidupan manusia.

 

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kawasan karst yang cukup luas, diperkirakan mencapai  ± 15,4 juta. Tersebar hampir  diseluruh pulau, mulai dari Papua sampai Aceh.  Sebagian besar wilayah pantai selatan dari Pulau Jawa merupakan kawasan karst, dengan bentuk  memanjang dari barat hingga ke arah timur. Salah satu kawasan karst  yang cukup luas dan telah berkembang bagi usaha pertanian dan mampu mencukupi kebutuhan pangan bagi penduduknya,  yaitu kawasan karst  Pegunungan Seribu. Pegunungan tersebut berada di Kabupaten Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) dan Kabupaten Pacitan, Trenggalek ( Jawa Timur).

 

Sumber : http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/berita-terbaru-topmenu-58/1283-kearifan

 

Pupuk Organik

TEMPLATE BARU

Tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. Namun tanah belum tentu menyediakan semua unsur hara yang diperlukan tanaman, perlu adanya pemupukan untuk menyuplai kandungan hara dalam tanah contohnya dengan penggunaan pupuk organik. Pupuk organik berperan dalam meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah serta mengefisienkan penggunaan pupuk anorganik.

 

Kualitas dan komposisi pupuk organik

Kualitas dan komposisi pupuk organik bervariasi tergantung dari bahan dasar kompos dan proses pembuatannya. Penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) serta bahan organik insitu, perlu diintensifkan untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik non komersial dan pemulihan kesuburan tanah.Pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani dalam pengadaan pupuk organik dapat dilakukan melalui: a) melatih petani membuat pupuk organik insitu yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman yang dikomposkan;b) mendorong petani melakukan diversifikasi usaha pertanian berbasis ternak; dan c) mendorong petani melakukan pengelolaan bahan organik insitu terutama pada lahan kering.

Pemanfaatan pupuk organik

 

Pemanfaatan pupuk organik telah diterapkan dalam sistem budidaya pertanian organik (organic farming) dan System of rice intensification (SRI). Pemberian pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik, telah diterapkan dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT), sistem integrasi padi/palawija dan ternak (SIPT), sistem pertanian mandiri yang mengintegrasikan ternak dan tanaman crop livestock system (CLS).

 

Sumber: http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/publikasi-mainmenu-78/art/1061-benah1

Older posts