Tak terasa pemira HMIT tinggal seminggu lagi, tepatnya tanggal 31 Desember 2014 mendatang. Hajat yang diadakan setiap tahun ini memang cukup hangat menjadi perbincangan. Tak hanya mahasiswa aktif saja yang penasaran dengan para kandidat calon ketua HMIT, tetapi senior/alumni juga turut serta.

Tak terasa bahwa kepengurusan HMIT harus segera berganti tangan, mengingat pemangku jabatan kali ini hampir memasuki tingkat akhir. Itu artinya sebagian mereka sudah harus atau sedang berfokus pada penelitian skripsi mereka. Kondisi yang demikian tidak lagi memungkinkan untuk para pemangku jabatan ini dapat melaksanakan tugas pokok mereka secara optimal di HMIT. Sehingga harus segera dilakukan regenerasi kepengurusan melalui mekanisme yang sesuai prosedur.

Prosedur pergantian kepengurusan HMIT diatur melalui surat keputusan yang diterbitkan Badan Pengawas HMIT (BP-HMIT). Mekanisme yang harus ditempuh antara lain pendaftaran bakal calon dengan mengisi formulir dan melengkapi ketentuan berkas yang telah ditentukan, kemudian dilaksanakan verifikasi berkas, setelah itu baru diumumkan siapa bakal calon ketua yang lolos menjadi calon ketua HMIT. Kedua mekanisme ini sudah dilakukan hingga hari ini (23/11).

Sejak awal pendaftaran dibuka, terdapat dua orang bakal calon ketua yang mengambil dan mengisi formulir, serta mengumpulkan berkas persyaratan. Akan tetapi pada masa akhir pendaftaran, satu hari sebelum pendaftaran dan pelengkapan berkas ditutup (19/12) salah satu bakal calon menyatakan ‘menarik diri’ dari perhelatan Pemira HMIT, beserta seluruh berkas persyaratan. Hingga perpanjangan waktu pendaftaran, tidak ada tambahan bakal calon.

Hasil verifikasi berkas hari ini, menghasilkan keputusan yang tidak cukup menggembirakan bagi Pemira HMIT. Badan Pengawas HMIT mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan bahwa Pemira HMIT 2014 memunculkan satu nama calon Ketua HMIT atas nama Ahya Salam NIM A14120083. Artinya Pemira HMIT tahun ini harus berjuang dengan ‘Calon Tunggal’.

Defini ‘Calon Tunggal’ dalam percaturan politik di kampus IPB tercinta ini menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Belum lagi beberapa pemilihan raya (Pemira) yang diselenggarakan hampir di setiap fakultas di IPB ini harus mengusung ‘Calon Tunggal’, seperti FPIK, FEM, dan Faperta. ‘Calon Tunggal’ sendiri memberikan dampak kurang baik dalam dinamika kampus ini, mengingat tingkat pemilik suara yang tidak memilih alias ‘Golput’ terus meningkat.

Berangkat dalam perhelatan Pemira tanpa pesaing bukan lah sesuatu yang mudah bagi siapa pun bakal calon yang maju sebagai calon ketua, karena sesungguhnya sang calon ketua ini sedang menghadapi pesaing yang lebih besar dari apa yang pernah dibayangkan. Betapapun tidak, pesaing yang sebenarnya dihadapi tidak nyata di hadapan calon, tetapi kehadirannya dapat dirasakan. Akan menjadi lebih ringan beban yang harus ditanggung calon ketua apabila pesaing yang dihadapi nyata keberadaannya.

Calon ketua HMIT tahun ini harus berjuang keras menarik perhatian semua civitas Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan dan meyakinkan mereka bahwa memang dia cocok dan pantas menjadi penerus estafet kepengurusan HMIT. Bukan suatu hal yang mudah bukan?

Bagaimana jika tidak dapat dicapai target angka yang ditetapkan BP-HMIT melalui KPR HMIT? Tentu yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah berapa sebenarnya target angka capaian yang akan dikeluarkan oleh KPR HMIT. Terlepas dari itu, jika kita berkaca pada isu yang pernah berkembang di lingkungan fakultas pertanian adalah (1) apakah Pemira dilaksanakan melalui pemilihan langsung, (2) kembali kepada BP HMIT, atau (3) ‘dibekukan’. Tentu pilihan terakhir bukanlah menjadi prioritas, bahkan di dalam benak pun seharusnya tidak terpikirkan.

Apakah kita hanya akan diam saja? Tentu tidak bukan? Mari semua, kita suarakan kepada civitas Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan bahwa sejatinya HMIT membutuhkan suara kita. Kepercayaan kita adalah harta paling berharga bagi keberhasilan HMIT. Buktikan kepada dunia bahwa ‘Calon Tunggal’ bukanlah hambatan berarti, justru menjadi bukti bahwa saatnya kita bersama-sama menyamakan visi dan misi untuk membangun HMIT IPB yang lebih baik.

Satu Calon. Satu Visi. Satu Misi. Satu Hati. Satu Jiwa. Satu Ilmu Tanah!

VIVA SOIL!
VIVA SOIL!
VIVA SOIL!

Share/Bookmark