Sistem klasifikasi tanah (alami) yang ada di dunia ini berbagai macam, karena banyak negara menggunkan sistem klasifikasi yang dikembangkan sendiri oleh negara tersebut. Di Indonesia saja sekarang ini paling sedikit dikenal tiga sistem klasifikasi tanah yang masing–masing dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah Bogor, FAO/UNESCO, dan USDA (Amerika Serikat). Ketiga sistem klasifikasi tanah ini memiliki kekurangan dan kelebihan jika diaplikasikan ke tanah-tanah di Indonesia, sehingga pada KONGRES X HITI (Desember 2011) disepakati akan dibentuk Sistem Klasifikasi Tanah Nasional yang diharapkan akan dapat mewakili sifat-sisat tanah yang tersebar di Indonesia.

1. Taksonomi Tanah (USDA)

Sistem klasifikasi tanah baru yang dikembangkan oleh, Amerika Serikat dengan nama Soil Taxsonomy (USDA, 1975, 1999) menggunakan enam kategori yaitu Ordo, SubOrdo, Great group, Subgroup, Family, dan Seri. Sistem ini merupakan sistem yang benar–benar baru baik mengenai cara–cara penamaan (tata nama) maupun definisi–definisi mengenai horison–horison penciri ataupun sifat–sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis–jenis tanah.

2. Sistem FAO/UNESCO

Sistem ini dibuat dalam rangka pembuatan peta skala 1:5.000.000 oleh FAO/UNESCO. Untuk ini telah dikembangkan suatu sistem klasifikasi dengan dua kategori. Kategori yang pertama kurang lebih setara dengan kategori great group, sedangkan kategori kedua mirip dengan subgroup dalam sistem Taksonomi Tanah USDA. Kategori yang lebih tinggi dan lebih rendah dari kedua kategori tersebut tidak dikembangkan.

Untuk pengklasifikasian, digunakan horison–horison penciri, sebagian di ambil dari kriteria–kriteria horison penciri pada Taksonomi Tanah USDA dan sebagian dari sistem klasifikasi tanah FAO/UNESCO sendiri. Nama–nama tanah yang diambil dari nama–nama klasik terutama nama–nama tanah Rusia yang sudah terkenal, serta nama–nama tanah yang digunakan di Eropa Barat, Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa nama baru yang khusus dikembangkan untuk tujuan ini (misalnya Luvisol dan Acrisol). Dari uraian diatas tampak bahwa sistem ini merupakan kompromi dari berbagai sistem. Tujuannya jelas agar dapat diterima oleh semua pihak. Walaupun demikian, sistem ini lebih tepat disebut sebagai suatu sistem satuan tanah daripada suatu sistem klasifikasi tanah karena tidak disertaidengan pembagian kategori yang lebih terperinci.

3. Sistem Pusat Penelitian Tanah Bogor

Sistem klasifikasi tanah yang berasal dari Pusat Penelitian Tanah Bogor dan telah banyak dikenal di Indonesia adalah sistem Dudal-Soepraptohardjo (1957). Sistem ini mirip dengan sistem Amerika Serikat terdahulu (Baldwin, Kellog, dan Throp, 1938; Thorp dan Smith, 1949) dengan beberapa modifikasi dan tambahan. Dengan dikenalnya sistem FAO/UNESCO (1974) dan sistem Amerika Serikat yang baru (Soil Taxosonomy, USDA, 1975), sistem tersebut telah ppuka mengalami penyempurnaan. Perubahan tersebut terutama menyangkut definisi jenis–jenis tanah (great group) dan macam tanah (subgroup). Dengan perubahan–perubahan definisi tersebut maka disamping nama–nama tanah lama yang tetap dipertahankan dikemukakanlah nama–nama baru yang kebanyakan mirip dengan nama–nama tanah dari FAO/UNESCO, sedang sifat–sifat pembedanya digunakan horison–horison penciri  seperti yang dikemukakan oleh USDA dalam Soil Taxosonomy (1975) ataupun oleh FAO/UNESCO dalam Soil Map of the World (1974).

Share/Bookmark